TEKNIK DASAR EVALUASI

  1. A. Prinsip dasar evaluasi hasil belajar
    1. Keterpaduan

Evaluasi merupakan komponen Intelegensi dalam program pengajaran disamping tujuan instruksionalnya dan materi, serta metode mengajar, karena itu perencanaan evaluasi harus sudah ditetapkan pada waktu menyusun suatu pengajaran sehingga dapat disesuaikan secara harmonis.

  1. Keterlibatan siswa

Prinsip ini berkaitan erat dengan metode belajar CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) yang menuntut keterlibatan siswa secara aktif, siswa mutlak untuk dapat mengetahui sejauh mana siswa berhasil dalam kegiatan belajar mengajar yang dijalani secara aktif, siswa membutuhkan evaluasi.

  1. Koherensi

Dengan prinsip koherensi dimaksudkan evaluasi harus berkaitan dengan materi pengajaran yang sudah disajikan dan sesuai dengan ranah kemampuan yang hendak diukur

  1. Pedagosis

Disamping sebagai alat penilai hasil/ pencapaian belajar, evaluasi juga perlu diterapkan sebagai upaya perbaikan sikap dan tingkah laku di tinjau dari segi pedogosis. Hasil evaluasi hendaknya dirasakan sebagai gambaran yakni sebagai penghargaan bagi yang berhasil tetapi merupakan hukum bagi yang kurang berhasil.

  1. Akuntabilitas

Sejauh mana keberhasilan program pengajaran perlu disampaikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan pendidikan sebagai laporan pertanggung jawaban.

Di bawah ini ada beberapa pakar yang mengungkapkan prinsip dasar Evaluasi hasil belajar berdasarkan penilaiannya yaitu :

Wiersma dan Jurs berpendapat bahwa evaluasi adalah suatu proses yang mencakup pengukuran dan mungkin juga testing, yang juga berisi pengambilan keputusan tentang nilai. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Arikunto yang menyatakan bahwa evaluasi merupakan kegiatan mengukur dan menilai. Kedua pendapat di atas secara implisit menyatakan bahwa evaluasi memiliki cakupan yang lebih luas daripada pengukuran dan testing.

Ralph W. Tyler, yang dikutip oleh Brinkerhoff dkk. Mendefinisikan evaluasi sedikit berbeda. la menyatakan bahwa evaluation as the process of determining to what extent the educational objectives are actually being realized. Sementara Daniel Stufflebeam (1971) yang dikutip oleh Nana Syaodih S., menyatakan bahwa evaluation is the process of delineating, obtaining and providing useful information for judging decision alternatif. Demikian juga dengan Michael Scriven (1969) menyatakan evaluation is an observed value compared to some standard. Beberapa definisi terakhir ini menyoroti evaluasi sebagai sarana untuk mendapatkan informasi yang diperoleh dari proses pengumpulan dan pengolahan data.

Sementara itu Asmawi Zainul dan Noehi Nasution mengartikan pengukuran sebagai pemberian angka kepada suatu atribut atau karakteristik tertentu yang dimiliki oleh orang, hal, atau obyek tertentu menurut aturan atau formulasi yang jelas, sedangkan   penilaian   adalah   suatu   proses   untuk   mengambil   keputusan   dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun nontes. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Suharsimi Arikunto yang membedakan antara pengukuran, penilaian, dan evaluasi. Arikunto menyatakan bahwa mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif. Sedangkan menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk.  Penilaian bersifat kualitatif. Hasil pengukuran yang bersifat kuantitatif juga dikemukakan oleh Norman E. Gronlund (1971) yang menyatakan “Measurement is limited to quantitative descriptions of pupil behavior”.

Pengertian Evaluasi yang ditekankan pada penentuan nilai suatu obyek juga dikemukakan oleh Nana Sudjana. la menyatakan bahwa penilaian adalah proses menentukan nilai suatu obyek dengan menggunakan ukuran atau kriteria tertentu, seperti Baik, Sedang, Jelek. Seperti juga halnya yang dikemukakan oleh Richard H, Lindeman (1 967) “The assignment of one or a set of numbers to each of a set of person or objects according to certain established rules

  1. B. Ciri Evaluasi hasil belajar
    1. 1. Ciri Evaluasi hasil belajar antara lain :

v     Validitas               : Ekonomis

v     Reliabilitas           : Taraf Kesukaran

v     Objektivitas          : Daya Pembeda

v     Praktikabilitas

–          Validitas

Sebuah Instrumen Evaluasi dikatakan baik manakala memiliki validitas yang tinggi. Yang dimaksud Validitas disini adalah kemampuan instrumen tersebut mengukur apa yang seharusnya diukur. Ada tiga Aspek yang hendak dievaluasi dalam evaluasi hasil belajar yaitu Aspek Kognitif, Psikomotor dan Afektif. Tinggi Rendah nya validitas instrumen dapat di hitung dengan uji validitas dan di nyatakan dengan koefisien validitas.

–          Realibilitas

Instrumen dikatakan memiliki reliabilitas yang tinggi manakala instrumen tersebut dapat menghasilkan hasil pengukuran yang ajeg. Keajegan/ketetapan disini tidak diartikan selalu sama tetapi mengikuti perubahan secara ajeg, Jika keadaan seseorang si upik berada lebih rendah dibandingkan orang lain misalnya si Badu, maka jika dilakukan pengukuran ulang hasilnya si upik juga berada lebih rendah terhadap si badu. Tinggi rendahnya reliabilitas ini dapat di hitung dengan uji reliabilitias dan dinyatakan dengan koefisien reliabilitas.

–          Objektivitas

Instrumen evaluasi hendaknya terhindar dari pengaruh-pengaruh subjektivitas pribadi dari si evaluator dalam menetapkan hasilnya. Dalam menekan pengaruh subjektivitas yang tidak bisa dihindari hendaknya evaluasi dilakukan mengacu kepada pedoman terutama menyangkut masalah kontinuitas dan komprehensif.

Evaluasi harus dilakukan secara kontinyu (terus-menerus). Dengan evaluasi yang berkali-kali dilakukan maka evaluator akan memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang keadaan Audience yang dinilai. Evaluasi yang diadakan secara on the spot dan hanya satu atau dua kali, tidak akan dapat memberikan hasil yang obyektif tentang keadaan audience yang di evaluasi. Faktor kebetulan akan sangat mengganggu hasilnya.

–          Praktikabilitas

Sebuah instrumen evaluasi dikatakan memiliki praktikabilitas yang tinggi apabila bersifat praktis mudah pengadministrasiannya dan memiliki ciri : Mudah dilaksanakan, tidak menuntut peralatan yang banyak dan memberi kebebasan kepada audience mengerjakan yang dianggap mudah terlebih dahulu. Mudah pemeriksaannya artinya dilengkapi pedoman skoring, kunci jawaban. Dilengkapi petunjuk yang jelas sehingga dapat di laksanakan oleh orang lain.

–          Ekonomis

Pelaksanaan evaluasi menggunakan instrumen tersebut tidak membutuhkan biaya yang mahal tenaga yang banyak dan waktu yang lama.

–          Taraf Kesukaran

Instrumen yang baik terdiri dari butir-butir instrumen yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sukar. Butir soal yang terlalu mudah tidak mampu merangsang audience mempertinggi usaha memecahkannya sebaliknya kalau terlalu sukar membuat audience putus asa dan tidak memiliki semangat untuk mencoba lagi karena diluar jangkauannya. Di dalam istilah evaluasi index kesukaran ini diberi simbol p yang dinyatakan dengan “Proporsi”.

–          Daya Pembeda

Daya pembeda sebuah instrumen adalah kemampuan instrumen tersebut membedakan antara audience yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan audience yang tidak pandai (berkemampuan rendah). Indeks daya pembeda ini disingkat dengan D dan dinyatakan dengan Index Diskriminasi.

  1. C. Ranah Kognitif, Ranah Afektif, Ranah Psikomotor Sebagai obyek evaluasi hasil belajar
    1. 1. Ranah Kognitif

Bloom membagi domain kognisi ke dalam 6 tingkatan. Domain ini terdiri dari dua bagian: Bagian pertama berupa adalah Pengetahuan (kategori 1) dan bagian kedua berupa Kemampuan dan Keterampilan Intelektual (kategori 2-6)

Pengetahuan (Knowledge)

Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, defenisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dsb. Sebagai contoh, ketika diminta menjelaskan manajemen kualitas, orang yang berada di level ini bisa menguraikan dengan baik definisi dari kualitas, karakteristik produk yang berkualitas, standar kualitas minimum untuk produk, dsb,

Pemahaman (Comprehension)

Dikenali dari kemampuan untuk membaca dan memahami gambaran, laporan, tabel, diagram, arahan, peraturan, dsb. Sebagai contoh, orang di level ini bisa memahami apa yang diuraikan dalam fish bone diagram, pareto chart, dsb.

Aplikasi (Application)

Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, dsb di dalam kondisi kerja. Sebagai contoh, ketika diberi informasi tentang penyebab meningkatnya reject di produksi, seseorang yang berada di tingkat aplikasi akan mampu merangkum dan menggambarkan penyebab turunnya kualitas dalam bentuk fish bone diagram atau pareto chart.

Analisis (Analysis)

Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisa informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yang rumit. Sebagai contoh, di level ini seseorang akan mampu memilah-milah penyebab meningkatnya reject, membanding-bandingkan tingkat keparahan dari setiap penyebab, dan menggolongkan setiap penyebab ke dalam tingkat keparahan yang ditimbulkan.

Sintesis (Synthesis)

Satu tingkat di atas analisa, seseorang di tingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yang dibutuhkan. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas mampu memberikan solusi untuk menurunkan tingkat reject di produksi berdasarkan pengamatannya terhadap semua penyebab turunnya kualitas produk.

Evaluasi (Evaluation)

Dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dsb dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yang ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya., Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas harus mampu menilai alternatif solusi yang sesuai untuk dijalankan berdasarkan efektivitas, urgensi, nilai manfaat, nilai ekonomis, dsb

  1. 2. Ranah Afektif

Pembagian Ranah ini disusun Bloom bersama dengan David Krathwol yaitu :

Penerimaan (Receiving/Attending)

Kesediaan untuk menyadari adanya suatu fenomena di lingkungannya. Dalam pengajaran bentuknya berupa mendapatkan perhatian, mempertahankannya, dan mengarahkannya.

Tanggapan (Responding)

Memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada di lingkungannya. Meliputi persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam memberikan tanggapan.

Penghargaan (Valuing)

Berkaitan dengan harga atau nilai yang diterapkan pada suatu objek, fenomena, atau tingkah laku. Penilaian berdasar pada internalisasi dari serangkaian nilai tertentu yang diekspresikan ke dalam tingkah laku.

Pengorganisasian (Organization)

Memadukan nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan konflik di antaranya, dan membentuk suatu sistem nilai yang konsisten.

Karakterisasi Berdasarkan Nilai-nilai (Characterization by a Value or Value Complex)

Memiliki sistem nilai yang mengendalikan tingkah-lakunya sehingga menjadi karakteristik gaya-hidupnya.

  1. 3. Ranah Psikomotor

Rincian dalam domain ini tidak dibuat oleh Bloom, tapi oleh ahli lain berdasarkan domain yang dibuat Bloom.

(Perception)

Penggunaan alat indera untuk menjadi pegangan dalam membantu gerakan.

Kesiapan (Set)

Kesiapan fisik, mental, dan emosional untuk melakukan gerakan.

Guided Response (Respon Terpimpin)

Tahap awal dalam mempelajari keterampilan yang kompleks, te

rmasuk di dalamnya imitasi dan gerakan coba-coba.

Mekanisme (Mechanism)

Membiasakan gerakan-gerakan yang telah dipelajari sehingga tampil dengan meyakinkan dan cakap.

Respon Tampak yang Kompleks (Complex Overt Response)

Gerakan motoris yang terampil yang di dalamnya terdiri dari pola-pola gerakan yang kompleks.

Penyesuaian (Adaptation)

Keterampilan yang sudah berkembang sehingga dapat disesuaikan dalam berbagai situasi.

Penciptaan (Origination)

Membuat pola gerakan baru yang disesuaikan dengan situasi atau permasalahan tertentu.

  1. D. Langkah-langkah pokok dalam evaluasi hasil
    1. Praktek evaluasi tentang diri seseorang anak atau sekelompok anak yang biasanya dibatasi dengan sifat tugas dalam keseluruhan hasil pendidikan seorang anak.
    2. Evaluasi yang baik ialah bahwa data yang kita kumpulkan mengenai setiap aspek pribadi anak harus merupakan “Behavior sampling” cukup respresentatif terhadap keseluruhan tingkah laku anak.
    3. Evaluasi yang baik adalah cara-cara serta alat-alat yang hendak kita pergunakan untuk pengumpulan data mengenai diri anak kita pilih betul-betul sebelumnya untuk mengumpulkan keterangan mengenai cerdas atau tidaknya seorang anak.
    4. Evaluasi yang baik ialah bahwa data yang telah kita kumpul tadi kita olah, kita godok lebih dahulu secara seksama sebelum memberi tafsiran terhadap data yang telah kita kumpulkan.
    5. Evaluasi yang baik bahwa dalam memberikan interverentasi atau tafsiran terhadap data yang telah diolah tadi, kita berpedoman ke satu kriterium yang jelas rumusnya serta dapat dipertanggung jawabkan.

Di dalam langkah-langkah pokok evaluasi pembelajaran juga tahap-tahap pembelajaran yaitu :

Tahap 1 :  Tahap Konseptual (Merumuskan dan membatasi masalah, meninjau kepustakaan yang relevan, mendefinisikan kerangka teoritis, merumuskan hipotesis).

Tahap ini termasuk merenungkan, berpikir, membaca, membuat konsep, revisi konsep, teoritisasi, bertukar pendapat, konsul dengan pembimbing, dan penelusuran pustaka.

Tahap 2 :  Fase Perancangan dan Perencanaan (memilih rancangan penelitian, mengidentifikasi populasi yang diteliti, mengkhususkan metode untuk mengukur variabel penelitian, merancang rencana sampling, mengakhiri dan meninjau rencana penelitian, melaksanakan pilot penelitian dan membuat revisi).

Peneliti menentukan metode yang digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian.

Tahap 3 :  Fase Empirik (pengumpulan data, penyiapan data untuk analisis)

Tahap 4 :  Fase Analitik (analisis data, penafsiran hasil)

Tahap 5 :  Fase Diseminasi

Pada fase ini dilakukan penyebaran penemuan ini hasil penelitian dikirimkan kepada jurnal-jurnal penelitian yang relevan dengan topik, Baik lokal maupun  luar negeri. Di samping jurnal peneliti juga mengusahakan untuk pemuatan di majalah-majalah, jurnal on-line, dan mengadakan seminar-seminar yang dihadiri perwakilan-perwakilan lembaga pendidikan dan ilmiah serta lembaga pemerintah terkait serta LSM.

Pada tataran mahasiswa yang melakukan penelitian untuk tugas akhir fase diseminasi sudah dilakukan dengan presentasi hasil karya tulis ilmiah/skripsi di depan dewan penguji dan dihadapan audiens yang diundang untuk mengikuti jalannya sidang dan terlibat dalam saran-saran dan pertanyaan kritis kepada peserta sidang. Walaupun begitu diseminasi sesungguhnya adalah apabila proses sidang dan persetujuan diselesaikan.

Pada fase diseminasi dilakukan juga proses penggunaan temuan yang dilakukan oleh peneliti sendiri atau pihak lain yang mencoba memanfaatkan setelah mengetahui proses diseminasi.

  1. E. Teknik Evaluasi Belajar

Sebelum membicarakan teknik-teknik evaluasi, berikut ini beberapa prinsip yang perlu diperhatikan guru dalam merencanakan evaluasi.

  1. Objektivitas

Guru harus merencanakan alat evaluasi secara objektif dalam art! benar-benar ingin mengetahui apa yang perlu diketahuinya. Dengan demikian alat evaluasi bentuk soal atau angket harus berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar mencakup: metode, bahan pengajaran, dll. Guru tidak boleh menyusun bahan evaluasi terhadap materi pengajaran yang belum pernah dipelajari oleh peserta didik. Hal demikian bersifat subjektif dan merugikan. Guru juga harus belajar mengesampingkan aspek emosinya (sentimen) dalam relasi dengan peserta didik (kejengkelan atau keakrabannya). Kalau tidak, masalah sentimen ini dapat mempengaruhi proses evaluasi.

  1. Kegunaan dan Relevansi

Guru harus menetapkan alat evaluasi yang betul-betul absah (valid) untuk mengukur kemajuan belajar ataupun program pengajaran. Guru juga harus bersikap adil dalam memberikan jumlah soal atau pertanyaan yang akan dijawab peserta didik, sesuai dengan alokasi waktu. Pengerjaan soal ujian hendaknya tidak melampaui waktu yang dipakai dalam pengajaran,

  1. Menyeluruh

Sebaiknya evaluasi yang dilakukan guru jangan bersifat sepihak, dalam arti hanya mengukur kemajuan atau kegagalan peserta didik, la juga harus berusaha menilai segi-segi lain yang berkaitan dengan interaksi belajar mengajar. Misalnya saja masalah kehadiran dan keaktifan diskusi dalam semua pertemuan, serta munculnya kreativitas dan kebersamaan dalam kerja kelompok.

Teknik tes merupakan suatu alat untuk prosedur yang sistematis dan objektif untuk memperoleh data-data atau keterangan yang diinginkan tentang seseorang dengan cara yang boleh dikatakan tepat dan cepat.

Dalam melaksanakan evaluasi belajar di SD, adapun teknik yang kita kenal yaitu :

  1. Evaluasi melalui tugas-tugas (PR). Tugas yang diberikan dengan baik dan jelas dapat membantu peserta didik untuk menampilkan kemampuan belajarnya termasuk spiritualitas, pengetahuan dan pengertian, keterampilan serta orisinalitasnya. Oleh karena itu, guru juga harus memberitahukan prosedur penilaian terhadap tugas yang diberikannya, antara lain:

–          Segi kegunaan tugas harus jelas diketahui oleh peserta didik.

–          Kesesuaian dengan beban studi.

–          Prosedur penilaian dan kriterianya.

–          Prosedur atau teknik kerja.

–          Perundingan segi waktu pekerjaan (berapa lama).

–          Kesiapan guru dalam memberikan bimbingan.

  1. Evaluasi melalui bantuan rekan.

Sering rekan pengajar lainnya dapat memberitahukan dengan baik sisi-sisi kekuatan dan kelemahan kita sendiri dalam banyak segi, seperti kerohanian, watak dan sikap, minat, pengetahuan dan keterampilan. Guru dapat merencanakan “alat” bagi keperluan ini, dengan memperhatikan prinsip-prinsip yang dikemukakan di atas, Sepatutnyalah guru memandang peserta didiknya (khususnya remaja, pemuda dan orang dewasa) sebagai “rekan sekerja” yang dapat membantu dirinya sendiri dalam meningkatkan wawasan dan keterampilan keguruannya.

  1. Evaluasi berdasarkan ujian.

Alat yang sering dipakai dalam kesempatan semacam ini disebut tes. Ada dua jenis utamanya, yakni;

  1. Tes objektif meliputi pilihan berganda, benar-salah, isian (menjodohkan). Sangat tepat untuk menilai segi-segi kognitif secara cepat dan menyeluruh, Tetapi jenis tes ini tidak dapat melihat segi kreativitas peserta didik dengan tepat
  2. Tes esai tertutup disajikan dengan cara memberikan soal untuk dikaji atau dipikirkan berdasarkan bahan pengajaran yang diterima murid. Bentuk ujian semacam ini sangat baik dan mungkin tepat untuk menilai kemampuan belajar, kedalaman, dan ketajaman pengertian peserta didik. Namun, untuk menilainya diperlukan lebih banyak waktu.
  3. Tes esai terbuka. Yang sangat dipentingkan dalam hal ini adalah kemampuan memahami, aplikasi, analisis, sintesis serta evaluatif peserta didik, dengan menggunakan fakta tertulis (ide, angka-angka, dll.).
  4. Evaluasi berdasarkan interview, termasuk ujian lisan komprehensif. Guru dapat mengukur kemajuan peserta didik dengan cara mengajaknya berbincang-bincang mengenai pokok tertentu. Kemudian guru memberitahu kemajuan dan kelemahan peserta didik berdasarkan hasil wawancara itu. Harus disadari bahwa bentuk semacam ini sering pula mengundang debat emosional dan pembicaraan yang tak tentu arahnya.
  5. Evaluasi berdasarkan pengamatan

Hal ini penting dalam rangka mengukur keterampilan dan sikap yang dituntut berkembang dalam diri peserta didik. Karena itu, guru harus menetapkan segi-segi kualitas yang akan diukur (items) termasuk aspek pengetahuan, penguasaan materi, pengertian, kemampuan menggunakan alat, keterampilan kerja, komunikasi, dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA

–       http://win79.blogspot.com/2008/II/evaluasi hasil berlajar.html.

–       http://www.google.com/docmodul/pengantar-psikologi-prog-efektif/bab 5-evaluasi-atas-teknik-teknik, proyektif pdf(application)pdf object).

–       Sobat baru-Blogsopt.com/2008/10 ekstra kurikuler-html-96k. www.kopertis 4.or.id/pages/data%202006/akreditasi/pedoman/buku % 202%20 kurikulum % 20 prog% studi pdf.

–       Akhmad Sudarajat.word press.com/2008/01/24 model pengembangan kurikulum/42k

–       Rachman, M.1999.Evaluasi Pembelajaran, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar (primary school teacher development projecto IBRD : 3496-IND.

–       Rusman, Modul Pendekatan dan Pembelajaran diakses tanggal 17 Desember 2008.

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: