TEKNIK DASAR EVALUASI

Juli 6, 2009
  1. A. Prinsip dasar evaluasi hasil belajar
    1. Keterpaduan

Evaluasi merupakan komponen Intelegensi dalam program pengajaran disamping tujuan instruksionalnya dan materi, serta metode mengajar, karena itu perencanaan evaluasi harus sudah ditetapkan pada waktu menyusun suatu pengajaran sehingga dapat disesuaikan secara harmonis.

  1. Keterlibatan siswa

Prinsip ini berkaitan erat dengan metode belajar CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) yang menuntut keterlibatan siswa secara aktif, siswa mutlak untuk dapat mengetahui sejauh mana siswa berhasil dalam kegiatan belajar mengajar yang dijalani secara aktif, siswa membutuhkan evaluasi.

  1. Koherensi

Dengan prinsip koherensi dimaksudkan evaluasi harus berkaitan dengan materi pengajaran yang sudah disajikan dan sesuai dengan ranah kemampuan yang hendak diukur

  1. Pedagosis

Disamping sebagai alat penilai hasil/ pencapaian belajar, evaluasi juga perlu diterapkan sebagai upaya perbaikan sikap dan tingkah laku di tinjau dari segi pedogosis. Hasil evaluasi hendaknya dirasakan sebagai gambaran yakni sebagai penghargaan bagi yang berhasil tetapi merupakan hukum bagi yang kurang berhasil.

  1. Akuntabilitas

Sejauh mana keberhasilan program pengajaran perlu disampaikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan pendidikan sebagai laporan pertanggung jawaban.

Di bawah ini ada beberapa pakar yang mengungkapkan prinsip dasar Evaluasi hasil belajar berdasarkan penilaiannya yaitu :

Wiersma dan Jurs berpendapat bahwa evaluasi adalah suatu proses yang mencakup pengukuran dan mungkin juga testing, yang juga berisi pengambilan keputusan tentang nilai. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Arikunto yang menyatakan bahwa evaluasi merupakan kegiatan mengukur dan menilai. Kedua pendapat di atas secara implisit menyatakan bahwa evaluasi memiliki cakupan yang lebih luas daripada pengukuran dan testing.

Ralph W. Tyler, yang dikutip oleh Brinkerhoff dkk. Mendefinisikan evaluasi sedikit berbeda. la menyatakan bahwa evaluation as the process of determining to what extent the educational objectives are actually being realized. Sementara Daniel Stufflebeam (1971) yang dikutip oleh Nana Syaodih S., menyatakan bahwa evaluation is the process of delineating, obtaining and providing useful information for judging decision alternatif. Demikian juga dengan Michael Scriven (1969) menyatakan evaluation is an observed value compared to some standard. Beberapa definisi terakhir ini menyoroti evaluasi sebagai sarana untuk mendapatkan informasi yang diperoleh dari proses pengumpulan dan pengolahan data.

Sementara itu Asmawi Zainul dan Noehi Nasution mengartikan pengukuran sebagai pemberian angka kepada suatu atribut atau karakteristik tertentu yang dimiliki oleh orang, hal, atau obyek tertentu menurut aturan atau formulasi yang jelas, sedangkan   penilaian   adalah   suatu   proses   untuk   mengambil   keputusan   dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun nontes. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Suharsimi Arikunto yang membedakan antara pengukuran, penilaian, dan evaluasi. Arikunto menyatakan bahwa mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif. Sedangkan menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk.  Penilaian bersifat kualitatif. Hasil pengukuran yang bersifat kuantitatif juga dikemukakan oleh Norman E. Gronlund (1971) yang menyatakan “Measurement is limited to quantitative descriptions of pupil behavior”.

Pengertian Evaluasi yang ditekankan pada penentuan nilai suatu obyek juga dikemukakan oleh Nana Sudjana. la menyatakan bahwa penilaian adalah proses menentukan nilai suatu obyek dengan menggunakan ukuran atau kriteria tertentu, seperti Baik, Sedang, Jelek. Seperti juga halnya yang dikemukakan oleh Richard H, Lindeman (1 967) “The assignment of one or a set of numbers to each of a set of person or objects according to certain established rules

  1. B. Ciri Evaluasi hasil belajar
    1. 1. Ciri Evaluasi hasil belajar antara lain :

v     Validitas               : Ekonomis

v     Reliabilitas           : Taraf Kesukaran

v     Objektivitas          : Daya Pembeda

v     Praktikabilitas

–          Validitas

Sebuah Instrumen Evaluasi dikatakan baik manakala memiliki validitas yang tinggi. Yang dimaksud Validitas disini adalah kemampuan instrumen tersebut mengukur apa yang seharusnya diukur. Ada tiga Aspek yang hendak dievaluasi dalam evaluasi hasil belajar yaitu Aspek Kognitif, Psikomotor dan Afektif. Tinggi Rendah nya validitas instrumen dapat di hitung dengan uji validitas dan di nyatakan dengan koefisien validitas.

–          Realibilitas

Instrumen dikatakan memiliki reliabilitas yang tinggi manakala instrumen tersebut dapat menghasilkan hasil pengukuran yang ajeg. Keajegan/ketetapan disini tidak diartikan selalu sama tetapi mengikuti perubahan secara ajeg, Jika keadaan seseorang si upik berada lebih rendah dibandingkan orang lain misalnya si Badu, maka jika dilakukan pengukuran ulang hasilnya si upik juga berada lebih rendah terhadap si badu. Tinggi rendahnya reliabilitas ini dapat di hitung dengan uji reliabilitias dan dinyatakan dengan koefisien reliabilitas.

–          Objektivitas

Instrumen evaluasi hendaknya terhindar dari pengaruh-pengaruh subjektivitas pribadi dari si evaluator dalam menetapkan hasilnya. Dalam menekan pengaruh subjektivitas yang tidak bisa dihindari hendaknya evaluasi dilakukan mengacu kepada pedoman terutama menyangkut masalah kontinuitas dan komprehensif.

Evaluasi harus dilakukan secara kontinyu (terus-menerus). Dengan evaluasi yang berkali-kali dilakukan maka evaluator akan memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang keadaan Audience yang dinilai. Evaluasi yang diadakan secara on the spot dan hanya satu atau dua kali, tidak akan dapat memberikan hasil yang obyektif tentang keadaan audience yang di evaluasi. Faktor kebetulan akan sangat mengganggu hasilnya.

–          Praktikabilitas

Sebuah instrumen evaluasi dikatakan memiliki praktikabilitas yang tinggi apabila bersifat praktis mudah pengadministrasiannya dan memiliki ciri : Mudah dilaksanakan, tidak menuntut peralatan yang banyak dan memberi kebebasan kepada audience mengerjakan yang dianggap mudah terlebih dahulu. Mudah pemeriksaannya artinya dilengkapi pedoman skoring, kunci jawaban. Dilengkapi petunjuk yang jelas sehingga dapat di laksanakan oleh orang lain.

–          Ekonomis

Pelaksanaan evaluasi menggunakan instrumen tersebut tidak membutuhkan biaya yang mahal tenaga yang banyak dan waktu yang lama.

–          Taraf Kesukaran

Instrumen yang baik terdiri dari butir-butir instrumen yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sukar. Butir soal yang terlalu mudah tidak mampu merangsang audience mempertinggi usaha memecahkannya sebaliknya kalau terlalu sukar membuat audience putus asa dan tidak memiliki semangat untuk mencoba lagi karena diluar jangkauannya. Di dalam istilah evaluasi index kesukaran ini diberi simbol p yang dinyatakan dengan “Proporsi”.

–          Daya Pembeda

Daya pembeda sebuah instrumen adalah kemampuan instrumen tersebut membedakan antara audience yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan audience yang tidak pandai (berkemampuan rendah). Indeks daya pembeda ini disingkat dengan D dan dinyatakan dengan Index Diskriminasi.

  1. C. Ranah Kognitif, Ranah Afektif, Ranah Psikomotor Sebagai obyek evaluasi hasil belajar
    1. 1. Ranah Kognitif

Bloom membagi domain kognisi ke dalam 6 tingkatan. Domain ini terdiri dari dua bagian: Bagian pertama berupa adalah Pengetahuan (kategori 1) dan bagian kedua berupa Kemampuan dan Keterampilan Intelektual (kategori 2-6)

Pengetahuan (Knowledge)

Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, defenisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dsb. Sebagai contoh, ketika diminta menjelaskan manajemen kualitas, orang yang berada di level ini bisa menguraikan dengan baik definisi dari kualitas, karakteristik produk yang berkualitas, standar kualitas minimum untuk produk, dsb,

Pemahaman (Comprehension)

Dikenali dari kemampuan untuk membaca dan memahami gambaran, laporan, tabel, diagram, arahan, peraturan, dsb. Sebagai contoh, orang di level ini bisa memahami apa yang diuraikan dalam fish bone diagram, pareto chart, dsb.

Aplikasi (Application)

Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, dsb di dalam kondisi kerja. Sebagai contoh, ketika diberi informasi tentang penyebab meningkatnya reject di produksi, seseorang yang berada di tingkat aplikasi akan mampu merangkum dan menggambarkan penyebab turunnya kualitas dalam bentuk fish bone diagram atau pareto chart.

Analisis (Analysis)

Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisa informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yang rumit. Sebagai contoh, di level ini seseorang akan mampu memilah-milah penyebab meningkatnya reject, membanding-bandingkan tingkat keparahan dari setiap penyebab, dan menggolongkan setiap penyebab ke dalam tingkat keparahan yang ditimbulkan.

Sintesis (Synthesis)

Satu tingkat di atas analisa, seseorang di tingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yang dibutuhkan. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas mampu memberikan solusi untuk menurunkan tingkat reject di produksi berdasarkan pengamatannya terhadap semua penyebab turunnya kualitas produk.

Evaluasi (Evaluation)

Dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dsb dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yang ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya., Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas harus mampu menilai alternatif solusi yang sesuai untuk dijalankan berdasarkan efektivitas, urgensi, nilai manfaat, nilai ekonomis, dsb

  1. 2. Ranah Afektif

Pembagian Ranah ini disusun Bloom bersama dengan David Krathwol yaitu :

Penerimaan (Receiving/Attending)

Kesediaan untuk menyadari adanya suatu fenomena di lingkungannya. Dalam pengajaran bentuknya berupa mendapatkan perhatian, mempertahankannya, dan mengarahkannya.

Tanggapan (Responding)

Memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada di lingkungannya. Meliputi persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam memberikan tanggapan.

Penghargaan (Valuing)

Berkaitan dengan harga atau nilai yang diterapkan pada suatu objek, fenomena, atau tingkah laku. Penilaian berdasar pada internalisasi dari serangkaian nilai tertentu yang diekspresikan ke dalam tingkah laku.

Pengorganisasian (Organization)

Memadukan nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan konflik di antaranya, dan membentuk suatu sistem nilai yang konsisten.

Karakterisasi Berdasarkan Nilai-nilai (Characterization by a Value or Value Complex)

Memiliki sistem nilai yang mengendalikan tingkah-lakunya sehingga menjadi karakteristik gaya-hidupnya.

  1. 3. Ranah Psikomotor

Rincian dalam domain ini tidak dibuat oleh Bloom, tapi oleh ahli lain berdasarkan domain yang dibuat Bloom.

(Perception)

Penggunaan alat indera untuk menjadi pegangan dalam membantu gerakan.

Kesiapan (Set)

Kesiapan fisik, mental, dan emosional untuk melakukan gerakan.

Guided Response (Respon Terpimpin)

Tahap awal dalam mempelajari keterampilan yang kompleks, te

rmasuk di dalamnya imitasi dan gerakan coba-coba.

Mekanisme (Mechanism)

Membiasakan gerakan-gerakan yang telah dipelajari sehingga tampil dengan meyakinkan dan cakap.

Respon Tampak yang Kompleks (Complex Overt Response)

Gerakan motoris yang terampil yang di dalamnya terdiri dari pola-pola gerakan yang kompleks.

Penyesuaian (Adaptation)

Keterampilan yang sudah berkembang sehingga dapat disesuaikan dalam berbagai situasi.

Penciptaan (Origination)

Membuat pola gerakan baru yang disesuaikan dengan situasi atau permasalahan tertentu.

  1. D. Langkah-langkah pokok dalam evaluasi hasil
    1. Praktek evaluasi tentang diri seseorang anak atau sekelompok anak yang biasanya dibatasi dengan sifat tugas dalam keseluruhan hasil pendidikan seorang anak.
    2. Evaluasi yang baik ialah bahwa data yang kita kumpulkan mengenai setiap aspek pribadi anak harus merupakan “Behavior sampling” cukup respresentatif terhadap keseluruhan tingkah laku anak.
    3. Evaluasi yang baik adalah cara-cara serta alat-alat yang hendak kita pergunakan untuk pengumpulan data mengenai diri anak kita pilih betul-betul sebelumnya untuk mengumpulkan keterangan mengenai cerdas atau tidaknya seorang anak.
    4. Evaluasi yang baik ialah bahwa data yang telah kita kumpul tadi kita olah, kita godok lebih dahulu secara seksama sebelum memberi tafsiran terhadap data yang telah kita kumpulkan.
    5. Evaluasi yang baik bahwa dalam memberikan interverentasi atau tafsiran terhadap data yang telah diolah tadi, kita berpedoman ke satu kriterium yang jelas rumusnya serta dapat dipertanggung jawabkan.

Di dalam langkah-langkah pokok evaluasi pembelajaran juga tahap-tahap pembelajaran yaitu :

Tahap 1 :  Tahap Konseptual (Merumuskan dan membatasi masalah, meninjau kepustakaan yang relevan, mendefinisikan kerangka teoritis, merumuskan hipotesis).

Tahap ini termasuk merenungkan, berpikir, membaca, membuat konsep, revisi konsep, teoritisasi, bertukar pendapat, konsul dengan pembimbing, dan penelusuran pustaka.

Tahap 2 :  Fase Perancangan dan Perencanaan (memilih rancangan penelitian, mengidentifikasi populasi yang diteliti, mengkhususkan metode untuk mengukur variabel penelitian, merancang rencana sampling, mengakhiri dan meninjau rencana penelitian, melaksanakan pilot penelitian dan membuat revisi).

Peneliti menentukan metode yang digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian.

Tahap 3 :  Fase Empirik (pengumpulan data, penyiapan data untuk analisis)

Tahap 4 :  Fase Analitik (analisis data, penafsiran hasil)

Tahap 5 :  Fase Diseminasi

Pada fase ini dilakukan penyebaran penemuan ini hasil penelitian dikirimkan kepada jurnal-jurnal penelitian yang relevan dengan topik, Baik lokal maupun  luar negeri. Di samping jurnal peneliti juga mengusahakan untuk pemuatan di majalah-majalah, jurnal on-line, dan mengadakan seminar-seminar yang dihadiri perwakilan-perwakilan lembaga pendidikan dan ilmiah serta lembaga pemerintah terkait serta LSM.

Pada tataran mahasiswa yang melakukan penelitian untuk tugas akhir fase diseminasi sudah dilakukan dengan presentasi hasil karya tulis ilmiah/skripsi di depan dewan penguji dan dihadapan audiens yang diundang untuk mengikuti jalannya sidang dan terlibat dalam saran-saran dan pertanyaan kritis kepada peserta sidang. Walaupun begitu diseminasi sesungguhnya adalah apabila proses sidang dan persetujuan diselesaikan.

Pada fase diseminasi dilakukan juga proses penggunaan temuan yang dilakukan oleh peneliti sendiri atau pihak lain yang mencoba memanfaatkan setelah mengetahui proses diseminasi.

  1. E. Teknik Evaluasi Belajar

Sebelum membicarakan teknik-teknik evaluasi, berikut ini beberapa prinsip yang perlu diperhatikan guru dalam merencanakan evaluasi.

  1. Objektivitas

Guru harus merencanakan alat evaluasi secara objektif dalam art! benar-benar ingin mengetahui apa yang perlu diketahuinya. Dengan demikian alat evaluasi bentuk soal atau angket harus berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar mencakup: metode, bahan pengajaran, dll. Guru tidak boleh menyusun bahan evaluasi terhadap materi pengajaran yang belum pernah dipelajari oleh peserta didik. Hal demikian bersifat subjektif dan merugikan. Guru juga harus belajar mengesampingkan aspek emosinya (sentimen) dalam relasi dengan peserta didik (kejengkelan atau keakrabannya). Kalau tidak, masalah sentimen ini dapat mempengaruhi proses evaluasi.

  1. Kegunaan dan Relevansi

Guru harus menetapkan alat evaluasi yang betul-betul absah (valid) untuk mengukur kemajuan belajar ataupun program pengajaran. Guru juga harus bersikap adil dalam memberikan jumlah soal atau pertanyaan yang akan dijawab peserta didik, sesuai dengan alokasi waktu. Pengerjaan soal ujian hendaknya tidak melampaui waktu yang dipakai dalam pengajaran,

  1. Menyeluruh

Sebaiknya evaluasi yang dilakukan guru jangan bersifat sepihak, dalam arti hanya mengukur kemajuan atau kegagalan peserta didik, la juga harus berusaha menilai segi-segi lain yang berkaitan dengan interaksi belajar mengajar. Misalnya saja masalah kehadiran dan keaktifan diskusi dalam semua pertemuan, serta munculnya kreativitas dan kebersamaan dalam kerja kelompok.

Teknik tes merupakan suatu alat untuk prosedur yang sistematis dan objektif untuk memperoleh data-data atau keterangan yang diinginkan tentang seseorang dengan cara yang boleh dikatakan tepat dan cepat.

Dalam melaksanakan evaluasi belajar di SD, adapun teknik yang kita kenal yaitu :

  1. Evaluasi melalui tugas-tugas (PR). Tugas yang diberikan dengan baik dan jelas dapat membantu peserta didik untuk menampilkan kemampuan belajarnya termasuk spiritualitas, pengetahuan dan pengertian, keterampilan serta orisinalitasnya. Oleh karena itu, guru juga harus memberitahukan prosedur penilaian terhadap tugas yang diberikannya, antara lain:

–          Segi kegunaan tugas harus jelas diketahui oleh peserta didik.

–          Kesesuaian dengan beban studi.

–          Prosedur penilaian dan kriterianya.

–          Prosedur atau teknik kerja.

–          Perundingan segi waktu pekerjaan (berapa lama).

–          Kesiapan guru dalam memberikan bimbingan.

  1. Evaluasi melalui bantuan rekan.

Sering rekan pengajar lainnya dapat memberitahukan dengan baik sisi-sisi kekuatan dan kelemahan kita sendiri dalam banyak segi, seperti kerohanian, watak dan sikap, minat, pengetahuan dan keterampilan. Guru dapat merencanakan “alat” bagi keperluan ini, dengan memperhatikan prinsip-prinsip yang dikemukakan di atas, Sepatutnyalah guru memandang peserta didiknya (khususnya remaja, pemuda dan orang dewasa) sebagai “rekan sekerja” yang dapat membantu dirinya sendiri dalam meningkatkan wawasan dan keterampilan keguruannya.

  1. Evaluasi berdasarkan ujian.

Alat yang sering dipakai dalam kesempatan semacam ini disebut tes. Ada dua jenis utamanya, yakni;

  1. Tes objektif meliputi pilihan berganda, benar-salah, isian (menjodohkan). Sangat tepat untuk menilai segi-segi kognitif secara cepat dan menyeluruh, Tetapi jenis tes ini tidak dapat melihat segi kreativitas peserta didik dengan tepat
  2. Tes esai tertutup disajikan dengan cara memberikan soal untuk dikaji atau dipikirkan berdasarkan bahan pengajaran yang diterima murid. Bentuk ujian semacam ini sangat baik dan mungkin tepat untuk menilai kemampuan belajar, kedalaman, dan ketajaman pengertian peserta didik. Namun, untuk menilainya diperlukan lebih banyak waktu.
  3. Tes esai terbuka. Yang sangat dipentingkan dalam hal ini adalah kemampuan memahami, aplikasi, analisis, sintesis serta evaluatif peserta didik, dengan menggunakan fakta tertulis (ide, angka-angka, dll.).
  4. Evaluasi berdasarkan interview, termasuk ujian lisan komprehensif. Guru dapat mengukur kemajuan peserta didik dengan cara mengajaknya berbincang-bincang mengenai pokok tertentu. Kemudian guru memberitahu kemajuan dan kelemahan peserta didik berdasarkan hasil wawancara itu. Harus disadari bahwa bentuk semacam ini sering pula mengundang debat emosional dan pembicaraan yang tak tentu arahnya.
  5. Evaluasi berdasarkan pengamatan

Hal ini penting dalam rangka mengukur keterampilan dan sikap yang dituntut berkembang dalam diri peserta didik. Karena itu, guru harus menetapkan segi-segi kualitas yang akan diukur (items) termasuk aspek pengetahuan, penguasaan materi, pengertian, kemampuan menggunakan alat, keterampilan kerja, komunikasi, dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA

–       http://win79.blogspot.com/2008/II/evaluasi hasil berlajar.html.

–       http://www.google.com/docmodul/pengantar-psikologi-prog-efektif/bab 5-evaluasi-atas-teknik-teknik, proyektif pdf(application)pdf object).

–       Sobat baru-Blogsopt.com/2008/10 ekstra kurikuler-html-96k. www.kopertis 4.or.id/pages/data%202006/akreditasi/pedoman/buku % 202%20 kurikulum % 20 prog% studi pdf.

–       Akhmad Sudarajat.word press.com/2008/01/24 model pengembangan kurikulum/42k

–       Rachman, M.1999.Evaluasi Pembelajaran, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar (primary school teacher development projecto IBRD : 3496-IND.

–       Rusman, Modul Pendekatan dan Pembelajaran diakses tanggal 17 Desember 2008.

PENULISAN KARYA ILMIAH

Juli 6, 2009

PENULISAN KARYA ILMIAH

Karya tulis ilmiah adalah suatu tulisan yang membahas suatu masalah. Karya tulis ilmiah merupakan serangkaian kegiatan penulisan berdasarkan hasil penelitian, yang sistematis berdasar pada metode ilmiah, untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah, terhadap permasalahan yang muncul sebelumnya. Dalam memaparkan dan menganalisa datanya harus berdasarkan pemikiran ilmiah.

Pemikiran ilmiah adalah pemikiran yang logis dan empiris. Pemikiran ilmiah pada lingkup keilmuan, terdiri dari dua tingkatan yaitu :

  • Tingkat Abstrak

Yang berkaitan dengan penalaran

  • Tingkat empiris

Yang berkaitan dengan pengamatan

Dalam proses pemikiran ilmiah selalu dimulai dengan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah merupakan gabungan dari dua pendekatan yaitu pendekatan induktif dan deduktif.

Pendekatan induktif adalah pengalaman atau pengamatan pada tingkat empiris, menghasilkan konsep, memodifikasi model hipotesis menjadi teori, dan bermuara ditingkat abstrak.

Pendekatan deduktif merupakan titik tolak penalaran serta perenungan ditingkat abstrak, yang menghasilkan pengukuran konsep serta pengujian hipotesis.

  • Langkah-langkah cara berpikir ilmiah :
  1. Adanya masalah
  2. Mengkaji teori
  3. Mencari data
  4. Mengolah data
  5. Menarik kesimpulan
  • Sikap ilmiah yaitu :
  1. Sikap ingin tahu
  2. Sikap kritis
  3. Terbuka
  4. Objektif
  5. Menghargai karya orang lain
  6. Berani mempertahankan kebenaran
  7. Sikap menjangkau kedepan.
  • Manfaat karya tulis ilmiah
  1. Bagi penulis

–          Akan mengembangkan keterampilan baca

–          Akan berkenalan dengan kegiatan perpustakaan

–          Akan meningkatkan keterampilan mengorganisasikan hasil/manfaat bahan bacaan.

  1. Bagi masyarakat

–          Membantu pemecahan masalah

–          Memperluas cakrawala ilmu pengetahuan

  • Syarat menulis karya tulis ilmiah
  1. Memiliki pengetahuan dasar tentang penulisan.
  2. Memiliki pengetahuan dasar metode penelitian
  3. Menguasai materi keilmuan tertentu atau khusus
  4. Memiliki wawasan yang luas tentang ilmu kependidikan
  • Jenis karya tulis ilmiah

Secara garis besar karya tulis ilmiah terbagi 2 :

  1. Karya ilmiah pendidikan

Karya ilmiah pendidikan digunakan sebagai tugas untuk meresume pelajaran, serta sebagai persyaratan mencapai suatu gelar pendidikan.

  1. Karya ilmiah pendidikan

1)     Paper (karya tulis)

2)     Pra skripsi

3)     Skripsi

4)     Thesis

5)     Desertasi

  1. Karya ilmiah panduan
    1. Panduan pelajaran text book)
    2. Buku pegangan (hand book)
    3. Buku pelajaran (diktat)
    4. Karya ilmiah referensi

1)     Kamus

2)     Ensiklopedia

  1. Karya ilmiah penelitian
    1. Makalah seminar :

1)     Makalah seminar

2)     Naskah bersambung

  1. Laporan hasil penelitian
  2. Jurnal penelitian
  • Langkah-langkah karya tulis ilmiah :
  1. Persiapan meliputi
    1. Menetapkan masalah, pemilihan topik
    2. Penegasan judul
    3. Pembuatan kerangka tulisan
    4. Pengumpulan data/informasi
    5. Pengorganisasian dan pengkonsepan
    6. Penyuntingan dan pemeriksaan
    7. Penyajian atau pengetikan naskah
  • Teknis menulis karya ilmiah

Dalam menulis, ada kaidah/aturan-aturan :

  1. Teknis meliputi
    1. Ukuran kertas
    2. Pengetikan
    3. Margin
    4. Alinea
    5. Notasi menulis ilmiah

MAKALAH ILMIAH

Makalah ilmiah adalah suatu kajian atau ulasan ilmiah hasil gagasan sendiri yang disajikan dalam bentuk tulisan

  • Unsur-unsur makalah :
  1. Permasalahan

Suatu permasalahan menuntut suatu jawaban

  1. Metode

Mencakup prosedur pemecahan yang meliputi makalah deduktif dan makalah induktif.

  1. Pembahasan

Menggambarkan adanya hasil pemecahan masalah

  1. Kesimpulan
  • Isi makalah :
  1. Pendahuluan
  2. Pembahasan masalah
  3. Kesimpulan dan saran
  • Sistematika penulisan :
  1. Bagian awal :

–          Judul

–          Abstrak

–          Kata pengantar

–          Daftar isi

  1. Bagian isi :

–          Pendahuluan masalah

–          Pembahasan masalah

–          Kesimpulan dan saran

  1. Bagian penutup

–          Daftar pustaka

–          Lampiran

  • Prosedur penyusunan makalah
  1. Merancang isi makalah
    1. Menentukan tema, topik dan judul
    2. Mengidentifikasi pembahasan
    3. Merancang kesimpulan dan saran
    4. Menulis makalah

Ada 2 hal yang diperhatikan :

  1. Alur pikir
  2. Bahan tulisan
  3. Petunjuk menulis makalah
    1. Kumpulan bahan yang berisi rancangan
    2. Menganalisa bahan rancangan
    3. Baca kembali hasil tulisan
    4. Meminta orang lain untuk mengoreksi hasil.

ARTIKEL

Artikel dalam bahasa Inggris berarti karangan. Dalam bahasa Indonesia berarti karangan yang dimuat dalam surat kabar.

  • Defenisi

Artikel suatu tulisan atau karangan tentang berbagai persoalan atau permasalahan.

  • Isi tulisan :

–          Pandangan

–          Ide-ide/gagasan

–          Opini

–          Kritik dibuat dalam masalah

  • Bentuk tulisan :

Tidak terikat oleh gaya bahasa, atau format tulisan tidak terkat.

  • Artikel di bagi 2 :
  1. Artikel konseptual

Diartikan hasil pemikiran penulis atas suatu permasalahan yang dituangkan dalam tulisan.

Unsur-unsur pokok artikel konseptual :

  1. Judul
  2. Nama penulis
  3. Abstrak dan kata kunci
  4. Bagian pendahuluan
  5. Bagian isi/inti
  6. Bagian penutup
  7. Daftar pustaka
  8. Artikel hasil penelitian

Unsur-unsur artikel hasil penelitian

  1. Judul
  2. Nama penulis
  3. Abstrak dan kata kunci
  4. Metode penelitian
  5. Hasil penelitian

JURNAL

Jurnal merupakan publikasi ilmiah yang memuat informasi tentang hasil kegiatan bidang Iptek.

Jurnal diartikan juga sarana komunikasi ilmiah antara pihak bidang-bidang terlibat.

Keterampilan Dasar Mengajar Bagi Guru

Juli 6, 2009

Keterampilan mengajar bagi seorang guru adalah sangat penting kalau ia ingin menjadi seorang guru yang profesional, jadi disamping itu, dia harus menguasai substansi bidang studi yang dia mampu, keterampilan dasar mengajar juga adalah merupakan keterampilan penunjang untuk keberhasilan dia dalam proses belajar mengajar.

Guru yang professional adalah guru yang dapat melakukan tugas mengajarnya dengan baik. Dalam mengajar diperlukan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk kelancaran proses belajar mengajar secara efektif dan efisien. Keterampilan guru dalam proses belajar mengajar antara lain:

  1. A. Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
    1. 1. Keterampilan membuka pelajaran

Keterampilan membuka pelajaran ialah kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran untuk menciptakan prakondisi murid agar minat dan perhatiannya terpusat pada apa yang dipelajarinya. Dengan demikian usaha tersebut akan memberikan efek yang positif bagi kegiatan pembelajaran. Dengan kata lain, kegiatan yang dilakukan oleh guru dimaksudkan untuk menciptakan suasana mental siswa agar terpusat pada hal-hal yang dipelajarinya. Kegiatan membuka pelajaran tidak hanya dilakukan oleh guru pada awal jam pelajaran, tetapi juga pada awal setiap penggal kegiatan inti pelajaran yang diberikan selama jam pelajaran itu. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara mengemukakan tujuan yang akan dicapai, menarik perhatian siswa, member acuan, dan membuat kaitan antara materi pelajaran yang telah dikuasai oleh siswa dengan bahan yang akan dipelajarinya, karena pentingnya membuka dan menutup pelajaran ini dalam proses pembelajaran, maka sangat perlu bagi setiap guru dan calon guru untuk memperoleh pengalaman serta latihan yang intensif dalam membuka dan menutup pelajaran.

  1. Tujuan keterampilan membuka pelajaran, yaitu untuk:

1)        Membantu siswa mempersiapkan diri agar sejak semula sudah dapat membayangkan pelajaran yang akan dipelajarinya.

2)        Menimbulkan   minat   dan   perhatian   siswa  pada   apa   yang   akan dipelajarinya dalam kegiatan belajar mengajar

3)        Membantu  siswa  agar  mengetahui  batas-batas  tugas  yang  akan dikerjakan

4)        Membantu siswa agar mengetahui hubungan antara pengalaman-pengalaman yang telah dikuasainya dengan hal-hal baru yang akan dipelajari atau yang belum dikenalnya

  1. Komponen-komponen dalam keterampilan membuka pelajaran yaitu:

1)      Menarik perhatian siswa, diantaranya dengan cara:

  1. Melakukan variasi dalam mengajar
  2. Menggunakan alat bantu mengajar
  3. Melakukan variasi dalam pola interaksi

2)      Memotivasi siswa, diantaranya dengan cara:

  1. Menimbulkan kehangatan dan keantusiasan
  2. Menimbulkan rasa ingin tahu
  3. Mengemukakan ide yang bertentangan
  4. Memperhatikan minat siswa

3)      Memberi acuan, diantaranya dengan cara:

  1. Mengemukakan tujuan dan batas-batas tugas
  2. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan
  3. Menyarankan langkah-langkah yang harus ditempuh siswa dalam kegiatan pembelajaran

Membuat kaitan, diantaranya dengan cara menghubungkan minat, pengalaman, dan hal-hal yang kenal oleh siswa ketika guru melakukan kegiatan pembelajaran.

  1. 2. Keterampilan Menutup Pelajaran

Keterampilan menutup pelajaran ialah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mengakhiri pelajaran.

Menjelang akhir suatu jam pelajaran atau pada akhir setiap penggal kegiatan guru harus melakukan kegiatan menutup pelajaran, agar siswa mendapatkan gambaran yang utuh tentang pokok-pokok materi pelajaran yang dipelajari. Cara-cara yang dapat dilakukan guru dalam menutup pelajaran ini adalah sebagai berikut.

  1. Meninjau kembali
    1. Merangkum inti pelajaran
    2. Membuat ringkasan
    3. Mengevaluasi
      1. Mendemonstrasikan keterampilan
      2. Mengaplikasikan ide baru pada situasi lain
      3. Mengekspresikan pendapat mahasiswa sendiri
      4. Soal-soal tertulis
      5. Tindak lanjut

Adapun tujuan-tujuan dari Menutup Keterampilan Dasar Mengajar antara lain :

  1. Tujuan keterampilan menutup pelajaran, yaitu untuk:

1)      Mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran

2)      Mengetahui tingkat keberhasilan guru dalam mengajarkan pada siswa

3)      Membantu siswa agar mengetahui hubungan antara pengalama-pengalaman yang telah dikuasainya dengan hal-hal yang baru saja dipelajarinya

  1. Komponen keterampilan menutup pelajaran, yaitu:

1)      Meninjau   kembali   penguasaan   inti   pelajaran   atau   membuat ringkasan

2)      Mengevaluasi, dengan cara;

a)      Mendemonstrasikan keterampilan

b)      Mengaplikasikan ide baru

c)      Mengekspresikan pendapat siswa sendiri

d)      Member soal-soal lisan dan tulisan

e)      Mengadakan   pengayaan,   tugas   mandiri,   maupun   tugas terstruktur.

Prinsip-prinsip keterampilan membuka dan menutup pelajaran, yaitu:

  1. 1. Bermakna

Usaha untuk menarik perhatian siswa atau memotivasi siswa harus sesuai dengan isi dan tujuan pelajaran. Cerita singkat atau lawakan yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran hendaknya dihindarkan.

  1. 2. Berurutan dan berkesinambungan

Kegiatan ini dilakukan oleh guru dalam memperkenalkan kembali pelajaran sebagai bagian dari kesatuan yang utuh. Perwujudan prinsip berurutan dan berkesinambungan ini memerlukan adanya suatu susunan bahan pelajaran yang tepat, sesuai dengan minat siswa yang ada kaitan logis antara satu bagian dengan yang lainnya, sehingga dapat disusun rantai kognisi yang jelas dan tepat.

  1. B. Keterampilan Menjelaskan

Keterampilan menjelaskan dalam pembelajaran ialah keterampilan menyajikan informasi secara lisan yang diorganisasi secara sistematis untuk menunjukkan adanya hubungan antara satu bagian dengan bagian yang lainnya, misalnya antar sebab dan akibat, defenisi dengan contoh atau dengan sesuatu yang belum diketahui. Penyampaian informasi yang terencana dengan baik dan disajikan dengan urutan yang cocok, merupakan cirri utama kegiatan menjelaskan. Pemberian penjelasan merupakan suatu aspek yang sangat penting dalam kegiatan seorang guru. Interaksi di dalam kelas cenderung dipenuhi oleh kegiatan pembicaraan, baik oleh guru sendiri, oleh guru dan siswa, maupun antara siswa dengan siswa:

  1. Menjelaskan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dari kegiatan guru di kelas. Hal itu dilakukan oleh guru baik di awal di tengah maupun diakhir pelajaran.
  2. Dalam interaksi pembelajaran dikelas biasanya guru cenderung mendominasi pembicaraan .Guru aktif menerangkan atau memberi penjelasan .
  3. Kegiatan guru memberi fakta, ide, pendapat, menegur siswa, memberi alasan untuk bertindak, dan sebagainya mempunyai pengaruh yang besar terhadap proses belajar.

Tujuan keterampilan menjelaskan, yaitu:

  1. Membimbing murid memahami materi yang dipelajari
  2. Melibatkan murid untuk berfikir dengan memecahkan masalah-masalah
  3. Untuk memberikan balikan kepada murid mengenai tingkat pemahamannya dan untuk mengatasi kesalahpahaman mereka
  4. Membimbing murid-murid untuk menghayati dan mendapat proses penalaran serta menggunakan bukti-bukti dalam pemecahan masalah
  5. Menolong siswa untuk mendapatkan dan memahami hukum, dalil, dan prinsip- prinsip umum secara objektif dan bernalar.

Komponen-komponen keterampilan menjelaskan, yaitu:

  1. Komponen merencanakan

Penjelasan  yang  diberikan  oleh  guru  perlu  direncanakan dengan  baik, terutama yang berkenaan dengan isi pesan dan penerima pesan.

1)      Isi pesan (materi) meliputi:

  • Analisis masalah secara keseluruhan dalam hal ini termasuk mengidentifikasikan unsur-unsur apa yang akan dihubungkan dalam penjelasan tersebut.
  • Penemuan jenis  hubungan  yang  ada  antara  unsur-unsur  yang dikaitkan tersebut
  • Penggunaan hukum atau generalisasi yang sesuai dengan hubungan yang telah ditentukan

2)      Penerima pesan

Merencanakan suatu penjelasan harus mempertimbangkan penerima pesan. Penjelasan yang disampaikan tersebut sangat bergantung pada kesiapan anak yang mendengarkannya. Hal ini berkaitan erat dengan jenis kelamin, usia, kemampuan, latar belakang, sosial, dan lingkungan belajar. Oleh karena itu, dalam merencanakan suatu penjelasan harus selalu mempertimbangkan faktor-faktor tersebut diatas.

  1. Penyajian suatu penjelasan

Penyajian suatu penjelasan dapat ditingkatkan hasilnya dengan mempertim-bangkan hal-hal sebagai berikut

1)      Kejelasan

Penjelasan hendaknya diberikan dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh siswa dan menghindari penggunaan ucapan-ucapan dan istilah-istilah lain yang tidak dimengerti oleh siswa.

2)      Penggunaan contoh dan ilustrasi

Dalam memberikan penjelasan sebaiknya menggunakan contoh-contoh yang ada hubungannya dengan sesuatu yang dapat ditemui oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari.

3)      Pemberian tekanan

Dalam memberikan penjelasan, guru harus mengarahkan perhatian siswa agar terpusat pada masalah pokok dan mengurangi informasi yang tidak penting. Dalam hal ini guru dapat menggunakan tanda atau isyarat lisan, seperti ” yang terpenting”, “perhatikan baik-baik konsep ini” atau “perhatikan yang ini agak susah”.

4)      Penggunaan balikan

Guru hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan pemahaman, keraguan, atau ketidak mengertiannya ketika penjelasan itu diberikan. Berdasarkan balikan itu guru perlu melakukan penyesuaian dalam penyajiannya, misalnya kecepatannya, memberi contoh tambahan atau mengulangi kembali hal-hal yang penting. Balikan tentang sikap siswa dapat dijaring bersamaan dengan pertanyaan yang bertujuan menjaring balikan tentang pemahaman mereka.

Prinsip-prinsip keterampilan menjelaskan, yaitu;

  1. Penjelasan dapat diberikan pada awal, di tengah, ataupun di akhir jam pertemuan (pelajaran), tergantung pada keperluannya. Penjelasan itu dapat juga diselingi dengan tujuan pembelajaran.
  2. Penjelasan harus relevan dengan tujuan pembelajaran.
  3. Guru dapat memberikan penjelasan apabila ada pertanyaan dari siswa ataupun yang direncanakan oleh guru sebelumnya.
  4. Mated penjelasan harus bermakna bagi siswa
  5. Penjelasan harus sesuai dengan kemampuan dan karakteristik siswa.
  1. C. Keterampilan Bertanya

Brown, dalam Hasibuan (1994) menyatakan bahwa bertanya adalah setiap pertanyaan yang mengkaji atau menciptakan ilmu pada diri siswa. Cara untuk mengajukan pertanyaan yang berpengaruh positif bagi kegiatan belajar siswa merupakan suatu hal yang tidak mudah. Oleh sebab itu, seorang guru hendaklah berusaha agar memahami dan menguasai penggunaan keterampilan bertanya.

Keterampilan bertanya dibedakan atas keterampilan mengajar bertanya tingkat dasar dan keterampilan mengajar bertanya tingkat lanjut Keterampilan bertanya tingkat dasar mempunyai komponen dasar yang perlu diterapkan dalam mengajukan segala jenis pertanyaan. Keterampilan bertanya tingkat lanjut merupakan kelanjutan dari keterampilan bertanya dasar dan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan berfikir siswa dan mendorong mereka agar dapat mengambil inisiatif sendiri.

  1. Tujuan pertanyaan yang diajukan kepada siswa, yaitu:
    1. Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu masalah yang sedang dibicarakan.
    2. Memusatkan perhatian siswa pada suatu masalah yang sedang dibahas.
    3. Mendiagnosis kesulitan-kesulitan khusus yang menghambat siswa dalam belajar.
    4. Mengembangkan cara belajar siswa aktif.
    5. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengasimilasikan informasi.
    6. Mendorong siswa mengemukakan pendapat dalam diskusi.
    7. Menguji dan mengukur hasil belajar.
    8. Komponen-komponen keterampilan bertanya, yaitu:
      1. Keterampilan bertanya tingkat dasar

1)      Penggunaan pertanyaan secara jelas dan singkat dengan menggunakan kata-kata yang mudah dipahami oleh siswa sesuai dengan taraf perkembangannya

2)      Pemberian acuan. Sebelum memberikan pertanyaan, kadang-kadang guru perlu memberikan acuan berupa pertanyaan yang berisi informasi yang relevan dengan jawaban yang diharapkan dari siswa

3)      Pemindahan giliran. Adakalanya satu pertanyaan perlu dijawab oleh lebih dari seorang siswa, karena jawaban belum benar atau belum memadai. Untuk itu guru dapat menggunakan teknik pemindahan giliran. Mula-mula guru mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas, kemudian memilih salah seorang siswa untuk menjawab, dengan cara menyebut namanya atau dengan menunjuk siswa itu.

4)      Penyebaran. Untuk melibatkan siswa sebanyak-banyaknya di dalam pelajaran, guru perlu menyebarkan giliran untuk menjawab pertanyaan secara acak. la hendaknya berusaha agar siswa mendapat giliran secara merata.

5)      Pemberian waktu berfikir. Setelah mengajukan pertanyaan kepada seluruh siswa, guru perlu memberi waktu beberapa detik untuk berfikir sebelum menunjuk salah seorang siswa untuk menjawabnya.

6)      Pemberian tuntunan. Bila seorang siswa memberikan jawaban salah atau tidak dapat memberikan jawaban, guru hendaknya memberikan tuntunan kepada siswa itu, agar ia dapat menemukan sendiri jawaban yang benar.

  1. Keterampilan bertanya tingkat lanjutan

1)      Pengubahan tuntunan tingkat kongnisi dalam menjawab pertanyaan. Pertanyaan yang dikemukakan oleh guru dapat mengandung proses mental yang berbeda-beda dari proses mental yang rendah sampai proses mental yang tinggi. Oleh karena itu, dalam mengajukan pertanyaan, guru hendaknya berusaha mengubah tuntunan tingkat kognisi dalam menjawab pertanyaan dari tingkat yang paling rendah, yaitu: evaluasi ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, dan sintesis.

2)      Pengaturan urutan pertanyaan. Untuk mengembangkan tingkat kognisi dari yang sifatnya lebih rendah kearah lebih tinggi dan kompleks, guru hendaknya dapat mengatur urutan pertanyaan yang diajukan kepada siswa.

3)      Penggunaan pertanyaan pelacak. Jika jawaban yang diberikan oleh siswa dinilai benar oleh guru, tetapi masih dapat ditingkatkan menjadi sempurna, guru dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan pelacak kepada siswa tersebut.

4)      Peningkatan terjadinya interaksi. Agar siswa lebih terlihat secara pribadi dan lebih bertanggung jawab atas kemajuan dan hasil diskusi, guru hendaknya mengurangi atau menghilangkan peranan sebagai peran sentral dengan cara mencegah pertanyaan dijawab oleh seorang siswa. Dan jika siswa mengajukan pertanyaan, guru tidak segera menjawab, tetapi melontarkan kembali kepada siswa lainnya.

  1. Prinsip-prinsip ketrampilan bertanya, yaitu:
    1. Kehangatan dan antusias

Peningkatan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran, guru perlu menunjukkan sikap, baik pada waktu mengajukan pertanyaan maupun ketika menerima jawaban dari siswa. Sikap dan gaya guru termasuk suara, ekspresi wajah, gerakan, dan posisi badan menampakkan ada tidaknya kehangatan dan keantusiasan.

  1. Kebiasaan yang perlu dihindari

1)      Jangan mengulang-ulang pertanyaan apabila siswa tak mampu menjawabnya.

2)      Jangan mengulang-ulang jawaban siswa

3)      Jangan menjawab sendiri pertanyaan yang diajukan sebelum siswa memperoleh kesempatan untuk menjawabnya.

4)      Usahakan agar siswa tidak menjawab pertanyaan secara serempak, karena guru tidak mengetahui dengan pasti siapa yang menjawab dengan benar dan siapa yang salah.

5)      Menentukan siswa yang harus menjawab sebelum mengajukan pertanyaan. Oleh karena itu, pertanyaan hendaknya ditujukan lebih dulu kepada seluruh siswa, baru kemudian guru menunjuk slab seorang untuk menjawab.

6)      Pertanyaan ganda. Guru kadang-kadang mengajukan pertanyaan yang sifatnya ganda, menghendaki beberapa jawaban atau kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa..

  1. D. Keterampilan Memberi Penguatan

Penguatan  adalah  respon  terhadap  suatu  tingkah  laku  yang  dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut.

  1. Tujuan keterampilan memberi penguatan, yaitu:
    1. Meningkatkan perhatian siswa pada pelajaran
    2. Meningkatkan motivasi belajar siswa
    3. Memudahkan siswa untuk belajar
    4. Mengeliminir tingkah laku siswa yang negatif dan membina tingkah laku positif siswa
    5. Komponen-komponen keterampilan penguatan, yaitu:
      1. Penguatan verbal

Penguatan verbal biasanya diutarakan dengan menggunakan kata-kata pujian, penghargaan, persetujuan, dan sebagainya.

  1. Penguatan non verbal

Penguatan ini meliputi beberapa hal, seperti:

1)      Penguatan berupa gerakan mimik dan badan, misalnya acuan jempol, senyuman, wajah cerah

2)      Penguatan dengan cara mendekati, misalnya: guru duduk dekat siswa, berdiri disamping siswa, berjalan disisi siswa

3)      Pengaturan dengan kegiatan menyenangkan, dalam hal ini guru dapat menggunakan kegiatan yang disenangi oleh siswa sebagai penguatan. Misalnya, apabila siswa dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik maka dia dapat diminta untuk membantu teman yang lainnya

4)      Penguatan berupa symbol dan benda, misalnya kartu bergambar bencana, bintang dari plastic.

5)      Penguatan tak penuh, yang diberikan apabila siswa memberi jawabannya sebagai yang benar. Dalam hal ini guru tak boleh langsung menyalahkan siswa, tetapi sebaiknya memberikan penguatan tak penuh, misalnya “ya jawabannya sudah baik, tetapi masih dapat disempurnakan “sehingga siswa tersebut mengetahui bahwa jawabannya tidak seluruhnya salah, dan ia mendapat dorongan untuk menyempurnakannya.

  1. Prinsip-prinsip keterampilan penguatan, yaitu:
    1. Kehangatan dan antusias
    2. Kebermaknaan
    3. Menghindari respon yang negative
    4. Penguatan pada perseorangan
    5. Penguatan pada kelompok siswa
    6. Penguatan yang diberikan dengan segera
    7. Penguatan yang diberikan secara variatif
  1. E. Keterampilan Menggunakan Media Peralatan

Media pembelajaran adalah sarana pembelajaran yang digunakan sebagai perantara dalam proses pembelajaran untuk mempertinggi efektivitas dan efisiensi dalam mencapai tujuan pembelajaran.

  1. Tujuan keterampilan menggunakan media pembelajaran, yaitu :
    1. Memperjelas penyajian pesan agar terlalu verbalitas
    2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera ]
    3. Memperlancar jalannya proses pembelajaran
    4. Menimbulkan kegairahan belajar
    5. Memberi kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi langsung dengan lingkungan dan kenyataan
    6. Memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar secara mandiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya.
  2. Komponen-komponen  keterampilan  menggunakan  media  pembelajaran yaitu:
    1. Media audio, yaitu media yang digunakan sebagai alat Bantu pembelajaran yang mempunyai sifat dapat didengarkan oleh siswa, seperti radio,
    2. Media visual, yaitu media yang digunakan sebagai alat Bantu dalam pembelajaran yang mempunyai sifat dapt dilihat oleh siswa, seperti peta.
    3. Media audio visual, yaitu media yang digunakan sebagai alat Bantu dalam pembelajaran yang mempunyai sifat dapat dilihat dan didengar oleh siswa, seperti TV Edukasi.
  3. Prinsip-prinsip keterampilan menggunakan media pembelajaran, yaitu:
    1. Tepat guna, artinya media pembelajaran yang digunakan sesuai dengan kompetensi dasar.
    2. Berdaya guna, artinya media pembelajaran yang digunakan mampu meningkatkan motivasi siswa
    3. Bervariasi,   artinya   media  pembelajaran   yang   digunakan   mampu mendorong sikap aktif siswa dalam belajar.
  1. F. Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil

Diskusi kelompok kecil adalah suatu proses percakapan yang teratur dan melibatkan kelompok orang dalam interaksi tatap muka yang bebas dan terbuka, dengan tujuan berbagi informasi atau pengalaman, mengambil keputusan, memecahkan suatu masalah. Jadi, pengertian keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil ialah keterampilan melaksanakan kegiatan membimbing siswa agar dapat melaksanakan diskusi kelompok kecil dengan efektif.

  1. Tujuan keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil, yaitu :
  2. Siswa    dapat memberi informasi atau pengalaman dalam menjelahi gagasan baru atau masalah yang harus dipecahkan oleh mereka.
  3. Siswa dapat mengembangkan pengetahuan dan kemampuan untuk berfikir dan berkomunikasi.
  4. Siswa terlibat dalam perencanaan dan pengambilan keputusan.
    1. Komponen-komponen keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil yaitu
      1. Memusatkan perhatian siswa pada tujuan dan topic diskusi.
      2. Memperjelas masalah maupun usulan / pendapat.
      3. Menganalisis pandangan / pendapat siswa.
      4. Meningkatkan usulan siswa.
      5. Menyebarluaskan kesempatan berpartisipasi
      6. Menutup diskusi.
      7. Prinsip-prinsip keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil yaitu
        1. Diskusi hendaknya berlangsung dalam  “iklim terbuka”.  Hal ini ditandai   dengan   adanya keantusiasan berpartisipasi, kehangatan hubungan antar pribadi, kesediaan menerima, dan mengenal lebih jauh topic diskusi, dan menghargai pendapat orang lain. Dengan demikian semua anggota kelompok mempunyai keinginan untuk mengenal dan dihargai, dapat merasa aman, dan bebas mengemukakan pendapat.
        2. Perlu perencanaan dan persiapan yang matang, matang, meliputi:

1)     Topik yang dipilih hendaknya sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, minat, dan kemampuan siswa.

2)     Masalah hendaknya mengandung jawaban yang kompleks, bukan jawaban yang tunggal.

3)     Adanya informasi pendahuluan yang berhubungan dengan topic tersebut agar para siswa memiliki lalar belakang pengetahuan yang sama.

4)     Guru harus benar-benar siap dengan sumber informasi sebagai motivator sehingga mampu memberikan penjelasan dan mengerjakan pertanyaan-pertanyaan yang dapat memotivasi siswa.

  1. Komponen-komponen keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil yaitu
    1. Memusatkan perhatian siswa pada tujuan dan topic diskusi.
    2. Memperjelas masalah maupun usulan / pendapat.
    3. Menganalisis pandangan / pendapat siswa.
    4. Meningkatkan usulan siswa.
    5. Menyebarluaskan kesempatan berpartisipasi
    6. Menutup diskusi.
    7. Prinsip-prinsip keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil yaitu
      1. Diskusi  hendaknya  berlangsung  dalam  “iklim  terbuka”.  Hal  ini ditandai   dengan   adanya   keantusiasan   berpartisipasi,   kehangatan hubungan antar pribadi, kesediaan menerima, dan mengenal lebih jauh topic diskusi, dan menghargai pendapat orang lain. Dengan demikian semua anggota kelompok mempunyai keinginan untuk mengenal dan dihargai, dapat merasa aman, dan bebas mengemukakan pendapat.
      2. Perlu perencanaan dan persiapan yang matang, matang, meliputi:

1)      Topik yang dipilih hendaknya sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, minat, dan kemampuan siswa.

2)      Masalah hendaknya mengandung jawaban yang kompleks, bukan jawaban yang tunggal.

3)      Adanya informasi pendahuluan yang berhubungan dengan topic tersebut agar para siswa memiliki latar belakang pengetahuan yang sama.

4)      Guru harus benar-benar siap dengan sumber informasi sebagai motivator sehingga mampu memberikan penjelasan dan mengerjakan pertanyaan-pertanyaan yang dapat memotivasi siswa.

  1. G. Keterampilan Mengelolah Kelas

Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya apabila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar. Untuk menghindari kebosanan siswa dalam proses pembelajaran guru perlu memiliki keterampilan variasi stimulus Variasi stimulus adalah keterampilan guru untuk menjaga agar iklim pembelajaran tetap menarik perhatian , tidak membosankan ,sehingga siswa menunjukkan sikap antusias dan ketekunan ,penuh gairah dan berpartisipasi aktif dalam setiap langkah kegiatan pembelajaran. Dalam model-model pembelajaran Sebagai implementasi KBK, KTSP keterampilan ini sangat diperlukan bagi setiap guru sebab kurikulum tersebut mengharapkan siswa berpartisipasi aktif dalam setiap tahapan proses pembelajaran .

  1. Tujuan keterampilan mengelola kelas, yaitu:
    1. Mendorong siswa mengembangkan tingkah lakunya sesuai tujuan pembelajaran.
    2. Membantu siswa menghentikan tingkah lakunya yang ,menyimpan dari tujuan pembelajaran.
    3. Mengendalikan siswa dan sarana pembelajaran dalam suasana pembelajaran yang menyenangkan untuk    mencapai    tujuan pembelajaran.
    4. Membina hubungan interpersonal yang balk antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa, sehingga kegiatan pembelajaran menjadi efektif.
  2. Komponen-komponen keterampilan mengelola kelas, yaitu:
    1. Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventif). Keterampilan ini berkaitan dengan kemampuan guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan kegiatan pembelajaran, sehingga berjalan secara optimal, efisien, dan efektif.
    2. Keterampilan   yang   berhubungan   dengan  pengembengan   kondisi belajar yang optimal. Keterampilan ini berkaitan degan respon guru terhadap gangguan siswa yang berkelanjutan. Dalam hal ini guru dapat mengadakan tindakan remedial untuk mengembalikan kondisi belajar.
  3. Prinsip-prinsip keterampilan mengelola kelas, yaitu:
    1. Memodifikasi tingkah laku. Guru hendaknya menganalisis tingkah laku siswa yang mengalami masalah dan memodifikasi tingkah laku tersebut dengan mengaplikasikan pemberian penguatan secara sistematis.
    2. Guru dapat menggunakan pendekatan pemecahan masalah kelompok dengan cara: memperlancar tugas-tugas, memelihara kegiatan kelompok, memelihara semangat siswa, dan menangani konflik yang timbul.
    3. Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah. Guru dapat menggunakan seperangkat cara untuk mengendalikan tingkah laku keliru yang muncul, dan ia mengetahui sebab-sebab dasar yang mengakibatkan ketidakpatutan tingkah laku tersebut serta berusaha untuk menemukan pemecahannya.
  1. H. Keterampilan Mengadakan Variasi.

Kehidupan akan lebih menarik jika penuh dengan variasi. Begitu dalam kegiatan belajar mengajar. Variasi dalam kegiatan belajar mengajar adalah perubahan kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi para siswa serta mengurangi

DAFTAR PUSTAKA

  1. Hadley. Linear Programming. 1962. Addison – Wesley Publishing Company, AS
  2. Soekartawi, Dr. Linear Programming: Teori dan Aplikasi, khususnya di bidang pertanian. 1992. Rajawali.
  3. Soewardi, Eddy, Drs. Linear Programming. 1984. Sinar Baru
  4. Yamit, Zulian. Linear  Programming. 1991. Bagian  Penerbitan   Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia
  5. Supranto, J, M.A. Linear Programming. 1983. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
  6. Diakses tanggal 23 Mei 2009 http://www.purjatifis.blogspot.com/

KONSEP – KONSEP PENDAPATAN

Juli 6, 2009

KONSEP – KONSEP PENDAPATAN

Selain dari pada GNP atau GNI, sebagai alat pengukur kegiatan ekonomi, masih ada konsep lain yang sangat bermanfaat dan dipergunakan secara luas.

  1. 1. Produk Nasional Netto (Net National Produk=NNP) adalah nilai netto dari pada output total, dikurangi penyusutan persediaan kapital bersangkutan. Jadi output nasional netto adalah GNP-Penyusutan.
  2. 2. Pendapatan Nasional (National Income = NI) adalah pendapatan total yang diperoleh semua faktor produksi tenaga kerja, capital, tanah dan sebagainya.

Pendapatan nasional juga merupakan alat pengukur netto, yang sama dengan produk national netto dikurangi pajak tidak langsung perusahaan.

Pajak tak langsung ini harus dikurangkan karena pajak seperti itu bukan pendapatan yang diperoleh suatu faktor produksi.

NI merupakan suatu alat pengukur produksi netto yang sangat baik,  karena konsep ini tidak terpengaruh oleh bahan pajak tak langsung. Apabila pajak penjualan dinaikkan maka GNP dan NNP akan naik, walaupun produksi rill tidak bertambah. Konsep pendapatan nasional adalah indikator terbaik dalam memperbandingkan tingkat pendapatan relatif antara negara-negara. Dewasa ini, GNP alat pengukur pokok, karena konsep ini adalah yang paling erat bertalian dengan volume produksi fisik dan dengan demikian penaksirannya dapat lebih objektif. GNP tidak memerlukan taksiran penyusutan yang seksama, suatu hal yang telah memusingkan para akuntan dan ahli ekonomi.

  1. 3. Pendapatan Perorangan (Personal Income)

Adalah pendapatan total yang diterima oleh dunia rumah tangga dari semua sumber. Pendapatan perorangan dapat di hitung dari pendapatan nasional dengan mengurangkan tiga unsur pendapatan nasional yang tidak sampai ketangan dunia rumah tangga yaitu laba perusahaan yang tidak dibagikan, pajak laba, Iuran jaminan sosial. Transfer payment bukan merupakan bahagian dari Pendapatan Nasional karena transfer tersebut bukan suatu hasil yang timbul dari produksi,  tetapi harus ditambahkan pada pendapatan perorangan karena merupakan pembayaran yang tersedia bagi rumah tangga sebagai suatu bentuk pendapatan.

  1. 4. Disposable Personal Income (Yd).

Yaitu pendapatan perorangan setelah dikurangi dengan pajak perorangan (personal tax), dan merupakan pendapatan yang tersedia bagi rumah tangga untuk dibelanjakan untuk dikonsumsi atau untuk ditabung.

GNP Potensil dan Aktuil.

Kita telah bicarakan alat pengukur output dan pendapatan aktuil. Hal yang tidak kalah penting juga adalah tingkat GNP Potensil atau Full Employment. Output potensil adalah output yang dapat  dihasilkan jika semua tenaga kerja dipekerjakan dan kapasitas produksi dipergunakan sepenuhnya, Perlu diingat bahwa yang disebut Full Employment ti­dak berarti Employment 100%. Tetapi apabila 96%-97% dari seluruh angkatan kerja sudah dipekerjakan dan apabila pabrik-pabrik pada umumnya  sudah bekerja dengan 90-95% kapasitas,  maka pada umumnya perekonomian yang bersangkutan berada  dalam keadaan Full Employment dan penggunaan kapasitas penuh. Kemakmuran (Prosperity) haruslah dinilai menurut hubungan antara GNP aktuil dan GNP potensil. Jika para pemakai akhir seperti Konsumen, Investor dan Pemerintah seluruhnya tidak membelanjakan jumlah yang cukup untuk membeli output yang dapat dihasilkan oleh perekonomian dalam keadaan full employment, maka output aktuil akan berkurang dibawah tingkat output potensil. Jika para pekerja akan diberhentikan dan akan terdapat kelebihan kapasitas. Dengan demikian, pada hakekatnya, alat pengukur pokok mengenai tingkat keparahan sesuatu depresi ekonomi adalah besarnya celah (gap) antara GNP aktuil dan GNP potensil.

Penggunaan GNP

GNP terdiri dari 4 komponen pokok, yang digolongkan menurut macam penggunaan output :

  1. Konsumsi C)
  2. Investasi (I)
  3. Pembelian Pemerintah (G)
  4. Ekspor netto  (X – M)

X  = Ekspor

M = Import

Semua output tertentu akan mengalir kepada salah satu dari ke 4 penggunaan ini.

Penjumlahan dari pada semua penggunaan ini sama dengan GNP = C + I + G+ (X-M)

  1. 1. Konsumsi  (C)

Pendapatan yang diperoleh anggota masyarakat akan digunakan sebagian untuk konsumsi dan sebahagian lagi untuk ditabung.  Tabungan merupakan sisa atau bahagian dari pendapatan yang tidak digunakan untuk kon­sumsi. Dalam perkembangannya sejak tahun 1929 pengeluaran konsumsi ada 3 macam :

  1. Pembelian barang awet   (durable gods).
  2. Barang tidak awet (non durable  gods)
  3. Jasa.

Pada waktu pendapatan sedang berkurang dan dalam keadaan pengangguran sedang, pembelian barang awet dapat ditangguhkan. Tetapi pembelian barang-barang kebutuhan seperti pangan, sewa, rente dan jasa dokter tidak dapat ditangguhkan bahkan kalau tidak ada pendapatan maka akan digunakan tabungan dimasa lampau.

  1. 2. Investasi ( I ).

Output suatu bangsa  tidak seluruhnya digunakan untuk kebutuhan konsumen, tetapi sebahagian digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan peralatan kapital perekonomian yang bersangkutan. Suatu bangsa dapat memperbesar potensi produksinya dengan cara menggunakan sebahagian sumber-sumbernya untuk menghasilkan unit-unit produksi lain. Tindakan yang menghasilkan barang-barang kapital, bersama dengan keahlian tenaga kerja dan kemajuan tehnologi dapat memperbesar produksi dan meningkatkan taraf hidup rakyat.

Sebagai kategori dari pada GNP, Investasi adalah bahagian dari pada output sekarang yang diwujudkan dalam bentuk penambahan kepada atau penggantian alat-alat produk­si rill.

Investasi bruto total (total gross investment) digunakan untuk 2 tujuan,

  1. Untuk mengganti peralatan kapital yang sudah aus/rusak dan timbulnya metode-metode baru yang menyebabkan usangnya metode-metode produksi yang lama.
  2. Untuk menambah kapital stock yang ada.

Investasi netto adalah sama dengan investasi bruto dikurangi penyusutan.

Dalam neraca GNP, Investasi terdiri dari 3 kategori pokok:

  1. Investasi tetap perusahaan (business Fixed Investment) yang dilakukan oleh dunia perusahaan untuk barang kapital awet seperti mesin,  bangunan pabrik, kantor dan gudang.
  2. Bangunan rumah tempat tinggal (Residential Construction) seperti rumah tinggal atau rumah petak untuk ditempati sendiri atau untuk disewa.
  3. Perubahan persediaan perusahaan (Change in business Inventory) adalah bahagian dari output yang diserap oleh perusahaan sebagai pertambahan kepada persediaan barang jadi, barang setengah jadi dan bahan-bahan mentah.

Output akhir meliputi output yang dijual kepada pemakai akhir dan perubahan persediaan perusahaan.

Perubahan dalam pengeluaran investasi ialah yang memainkan peranan penting dalam fluktuasi-fluktuasi ekonomi. Fluktuasi dalam pengeluaran investasi itu mengakibatkan perubahan-perubahan yang besar dalam output total dan kesempatan kerja (Employment).

  1. 3. Pemerintah ( G ).

Pemerintah membeli barang-barang ekonomi seperti (peluru kendali, gedung  dan jasa). Pembelian barang-ba­rang dan jasa yang dilakukan oleh pemerintah ini berarti menyerap output dan merupakan bahagian dari GNP. Sebahagian besar dari pengeluaran pemerintah tidak merupakan pembelian barang dan jasa tetapi merupakan trans­fer payment, Seperti pembayaran dana pensiun, jaminan sosial,  bantuan-bantuan sosial,  tunjangan pembangunan dan lain-lain. Pembayaran seperti ini adalah suatu transfer pendapatan diantara para anggota masyarakat melalui pemerintah dari pembayaran pajak-pajak kepada yang memperoleh bantuan. Pembayaran transfer payment tidak merupakan pembelian output, dengan demikian tidak diperhitungkan dalam GNP. Sebahagian dari pengeluaran pemerintah pusat  dan daerah digunakan untuk keperluan investasi dalam alat-alat produksi yang membantu meningkatkan kapasitas dan efisiensi perekonomian.

  1. 4. Ekspor Netto  (X – M) .

Ekspor barang-barang dan jasa juga merupakan suatu penggunaan akhir (Final Use)   dari GNP,   karena itu harus dimasukkan dalam jumlah total GNP,    Suatu negara selain dia mengekspor juga mengadakan impor untuk menutup kebutuhan yang tidak cukup dihasilkan da­lam negeri. Maka dari itu, pembelian barang-barang dan jasa yang diimpor harus kita kurangkan dari pembelian total agar jumlah total dari GNP itu benar. Dalam memperhitungkan unsur ekspor dan impor ini kita harus ambil angka nettonya yaitu ekspor dikurangi import ini disebut ekspor netto  (Net Export).

Arus Pendapatan Nasional Bruto kepada Konsumenya,  Perusahaan dan Pemerintah.

Kita telah mengetahui bahwa produksi menciptakan pendapatan yang menimbulkan pengeluaran yang selanjutnya menyebabkan timbulnya produksi. Rangkaian proses ini dinamakan arus pendapatan kegiatan ekonomi.

Pendapatan Nasional Bruto (GNI)

Adalah penjumlahan dari pada pendapatan bruto yang diterima oleh semua satuan-satuan ekonomi individuil yang ada  dalam suatu masyarakat tertentu. Pendapatan ini tidak sama dengan pendapatan yang tersedia bagi konsumen untuk siap dibelanjakan atau untuk ditabung.

Hal ini disebabkan :

  1. Sebahagian dari pendapatan total yang diterima itu dibayarkan pajak kepada pemerintah, Perusahaan juga harus bayar pajak pendapatan.
  2. Untuk mempertahankan kelangsungan hidup perusahaannya,  ia harus memupuk dana  cadangan penyusutan, yang pada suatu waktu akan di investasi kembali didalam perusahaan.
  3. Dunia  rumah tangga adakalanya menerima suatu penda­patan yang tidak ada hubungannya  dengan proses produksi dan oleh karena  itu tidak dicakup dalam GNI yaitu transfer payment dari pemerintah.

Dengan demikian jumlah total dari disposable income (Yd) yang tersedia bagi konsumen adalah :

Pendapatan Nasional Bruto dikurangi pajak, dikurangi tabungan bruto perusahaan, ditambah transfer payment.

Dengan kata lain jumlah total dari pendapatan nasional bruto terbagi-bagi kepada 3 bahagian atau golongan pembelanjaan dalam perekonomian :

  1. Perusahaan → Sebagai tabungan bruto perusahaan
    1. Pajak netto pemerintah      →   Jumlah total pajak yang di pungut oleh Pemerintah dikurangi dengan transfer payment yang dibayarkan.
    2. Disposable personal income (Yd).

Gross National Income (GNI), Pajak (Tx), tabungan bruto perusahaan (Sb), Transfer payment (Tr) dan Disposable personal income (Yd),  maka  dari uraian diatas dapat kita rumuskan secara singkat sebagai berikut  :

Yd  = GNI – Tx + Tr

Tabungan bruto perusahaan adalah bahagian dari arus pendapatan total yang ditahan oleh perusahaan setelah dibayar pajak dan deviden.

Pajak Netto  : Pajak total dikurangi dengan transfer payment. Pemerintah merupakan salah satu dari penerima pendapatan nasional bruto. Pendapatan nasional bruto    yang mengalir ke tangan pemerintah pusat dan daerah dalam fee untuk pajak.

Pengeluaran, dan GNI

Pendapatan yang tercipta dalam proses produksi pada akhirnya terbagi menjadi 3 kategori pokok :

–       Disposable personal income

–       Tabungan bruto perusahaan

–       Pajak netto

Pemeliharaan produksi juga tergantung pada caranya ketiga golongan yaitu Konsumen, Investor dan Pemerintah, memilih penggunaan pendapatan mereka.

Perubahan yang terjadi dalam hubungan antara pengeluaran dan pendapatan inilah yang menyebabkan timbulnya keadaan depressi dan inflasi. Seandainya perbandingan antara pengeluaran dan pendapatan tiap golongan itu tetap sama atau seandainya perubahan perbandingan pengeluaran dan pendapatan suatu golongan selalu diimbangi oleh perubahan sebaliknya  dalam pola pengeluaran golongan lain, maka fluktuasi ekonomi tentu tidak terjadi. Akan tetapi kenyataan menunjukan bahwa pola pengeluaran itu se­lalu berubah-ubah, terutama pengeluaran investasi yang cenderung untuk mudah berubah-ubah, hal mana mengakibatkan ketidakstabilan Produksi, pendapatan dan employment.


Tiga Kategori Pengeluaran

Hello world!

Juli 6, 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!